
Lantas mengapa dakwah harus dimulai dengan kalimat ini? Kalau seandainya saja Nabi Muhammad menegakkan satu prinsip Pan Arabisme, maka dengan mudah ia akan mendapatkan dukungan dari seluruh wilayah Jazirah Arab. Karena pada saat itu tanah Jazirah yang subur itu di kuasai oleh kekuasaan Romawi dan Persia. Wilayah Suriah, di utara Jazirah Arab, berada dalam cengkraman bangsa Romawi, para Penguasa Arab di sana dikuasai oleh Romawi. Sementara itu seluruh negeri Yaman di sebelah selatan Jazirah Arab, takluk pada imperium Persia. Para Amir di sana dikendalikan oleh Persia. Orang-orang Arab hanya menguasai tanah Hijaz, Tihamah, dan Nejad, serta gurun yang luas di sana sini terbentang lembah yang luas.[1]
Dengan kapasitasnya sebagai orang yang jujur dan terpercaya Muhammad Saw mampu menengahi para pemimpin Quraisy yang hampir saja berperang tatkala mereka berselisih tentang orang yang akan meletakkan Hajar Aswad. Nabi Saw termasuk kalangan bangsawan dari Bani Hasyim yang merupakan nasab tertinggi dari suku Quraisy. Kalau saja dengan kapasitasnya itu ia membangkitkan semangat Pan Arabisme dengan mempersatukan blok-blok Arab yang terkikis oleh permusuhan dan disintegrasi, dengan menggiring mereka kepada semangat nasionalisme Arab untuk membebaskan tanah air mereka yang di rampas oleh imperium-imperium imperialis, antara Kekuasaan Romawi bagian utara dan Imperium Persia bagian Selatan, kemudian menegakkan panji-panji Arabisme serta menciptakan kesatuan kebangsaan Arab di seluruh penduduk Jazirah Arab maka itu akan sangat mudah baginya untuk mendapatkan dukungan massa yang besar.
Atau mungkin ada yang berpendapat kalau saja Muhammad Saw mengangkat panji-panji sosialisme dengan menyebarkan perang melawan kaum borjuis bisa saja semua orang miskin mengikutinya untuk melakukan revolusi, mengambil harta orang kaya dengan melakukan propaganda sosialisme. Atau seandainya saja Nabi Muhammad melakukan dakwah pembaharuan demi menegakkan moralitas dalam keadaan merosotnya moralitas di masyarakat Arab akan baik untuk menyucikan dan membersihkan jiwa orang-orang Arab itu dan sangat besar kemungkinan akan di terima oleh orang-orang yang memiliki akhlak yang terpuji dan jiwanya yang tercerahkan.
Baca juga: TAUHID SEBAGAI MANHAJ HIDUP (2)
Baca juga: TAUHID SEBAGAI MANHAJ HIDUP (1)
Semua itu bukanlah solusi bagi dakwah Islam yang sesungguhnya. Allah mengetahui bahwa itu bukan merupakan solusi. Membebaskan tanah Arab dari thogut Romawi dan thogut Persia, lalu menyerahkannya kepada thogut bangsa Arab bukanlah solusi. Thogut tetaplah thogut! Bumi ini milik Allah dan wajib di bebaskan demi Allah. Dan bumi ini tidak akan bebas kecuali dengan kalimat la ilaha illallah. Juga bukan solusi bahwa manusia di tanah Arab lepas dari cengkraman thogut Romawi dan thogut Persia, namun jatuh di tangan thogut orang Arab. Thogut tetaplah thogut, manusia adalah hamba Allah semata, dan mereka baru benar-benar murni hamba Allah jika telah dikibarkan panji la iilaha illallah.[2]
Begitu pun dalam menegakkan sosialisme, semua itu bukan merupakan solusi bagi keadaan yang tengah terjadi. Allah Swt mengetahui bahwa hal tersebut bukanlah solusi. Dia mengetahui keadilan sosial harus terpancar dari konsepsi teologis yang kemprehensif. Konsepsi ini mengembalikan semua urusan hanya kepada Allah Swt dan sepenuhnya menjalankan apa yang telah Allah tetapkan berupa keadilan dan pemerataan bersama.
Dengan konsepsi ini entah penguasa atau rakyat, orang miskin atau kaya, harus menjalankan tatanan yang di syariatkan oleh Allah ini. Sebab jangan sampai dengan menegakkan sosialisme itu dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang tamak! Jangan sampai hati ini dipenuhi dengan dendam! Jangan sampai persoalan diselesaikan dengan pedang dan tongkat ataupun dengan intimidasi dan teror. Jangan sampai hati diisi oleh kebencian.[3]
Semua konsepsi yang pernah ada yang ditawarkan oleh seluruh umat manusia tidak pernah mampu memberikan sebuah solusi dalam menyelesaikan semua persoalan itu. hanya dengan kalimat syahadat inilah semua harus di mulai. Ajaran-ajaran dan konsepsi manapun yang pernah ada yang di tawarkan oleh seluruh dunia tidak bisa menjadi obat mujarab dalam menghadapi kolonialisme dan imperialisme kekuasaan raksasa dimasa itu. hanya konsepsi yang menjadikan la ilaha illallah sebagai fundamen utama inilah yang mampu melakukan revolusi secara besar-besaran terhadap tradisi jahiliyah yang sangat menyesatkan itu. Konsepsi ini juga telah mempersatukan manusia dalam satu ikatan fundamental yang menjadi ciri khas persatuan umat manusia yang tidak mengenal suku, klan atau nation. Mereka di persatukan atas dasar akidah yang kuat.
Konsepsi fundamental ini pulalah yang telah menyamakan kedudukan antara bangsawan dan rakyat miskin, yang telah menyamakan antara kedudukan penguasa dunia dengan yang dikuasainya. Kalimat ini pula adalah salah satu kemerdekaan yang hakiki atas penghambaan diri pada jin-jin, pada berhala-berhala, pada manusia-manusia tiran yang jahat.
Kalimat ini pula yang telah mengangkat harkat dan martabat manusia dari lumpur kehinaan menjadi manusia yang berarti. Kalimat ini telah mencerahkan peradaban manusia yang terkubur dalam rawa-rawa akibat kekuasaan manusia-manusia dzolim. Singkatnya kalimat ini adalah fundamen utama bagi kemajuan manusia dalam kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. La ilaha illallah wa Anna Muhammadur Rasulullah itulah kalimatnya! Yaitu hanya Allah yang menjadi penguasa seluruh alam semesta beserta isinya. Dan Muhammad Saw sebagai panutan dan contoh teladan dari semua tindakan. Itulah manhaj hidup yang harus kita tegakkan!
Akan tetapi dapatkah sebuah kalimat yang kecil ini mampu untuk melakukan sebuah perubahan yang begitu besar, bahkan mencakup seluruh dunia ini?
[1] Bandingkan Juga dengan Sayyid Qutbh, Ibid, hal. 53
[2] Sayyid Qutbh, Ibid, hal 55
[3] Sayyid Qutbh, Ibid, hal. 57
©Civil Institute

3 tanggapan untuk “Tauhid Sebagai Manhaj Hidup(3)”